Ingatkah Engkau Akan Kebahagiaan Ubayy bin Ka’ab?

Cuplikan cerita ini disadur dari (Kaandhalawi, 1997):

Ubayy bin Ka’ab adalah salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang sangat ahli dalam ilmu Qur’an. Suatu malam, setelah selesai tahajud, Rasulullah s.a.w. berkata padanya, “Allah memerintahkan ku untuk membacakan Qur’an padamu”.

Ubayy bin Ka’ab pun bertanya pada Rasulullah s.a.w., “Oh Rasulullah, apakah Allah memanggil dengan namaku”.

Rasulullah s.a.w. menjawab, “Iya, Allah memanggil namamu”.

Ubayy bin Ka’ab pun menangis bahagia.

 

Cerita di atas menggambarkan dekatnya kedudukan Ubayy bin Ka’ab pada Allah. Sudahkah kita merasa sedekat itu dengan Nya? Sudahkah kita menyiapkan diri kita agar bisa sedekat itu dengan Nya? Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk Ramadhan agar bisa lebih dekat dengan Nya?

 

Ramadhan di depan mata, jangan sampai tersia-sia. Semoga Allah memudahkan kita semua. 

 

Reference:

Cerita di Balik Belajar Memasak

“Tumisanmu enak” kata suamiku saat mencicipi masakan ku pada awal kita menikah. Yup, saat itu memang aku belum padai mengolah makanan menjadi kudapan dengan berbagai variasi. Jangankan mengolah, bumbu saja mungkin hanya tergolong bumbu dasar yang kupakai, bawang merah, bawang putih, cabai, lada, garam, dan gula. Hampir semua bahan makanan yang kami beli, ku olah menjadi tumisan. Bisa dibilang itu adalah masakan andalanku. MSG atau penyedap makanan? Hmm benda itu tak pernah muncul pada daftar belanja kami atau kau temukan di apartemen kami.

 

Welcome Winter

Welcome winter!

Finally, I can see beautiful scenery of winter. This is my first time of living in a place which has four seasons. Today is the fourth month I lived in Logan, Utah. The place where you can easily find a lot of beautiful views just by opening your door or window. I remembered the first time I saw the view around my apartment.

Objektif, Tantangan, dan Batasan

Hari itu merupakan awal minggu yang dingin. Salju bercucuran dari langit kota Logan, UT, bagaikan kelopak melati transparan yang berguguran di taman gantung. Kondisi kantor tidak jauh berbeda, karena pemanas sentral sedang diperbaiki, ruangan terasa dingin walau tidak sampai -8 Celsius. Di ruangan itu hanya ada dua orang, saya dan seorang mahasiswa lainnya. Keduanya tenggelam dalam pekerjaan mereka, menganalisis data riset sementara rekan-rekan lain sedang menikmati liburan musim dingin mereka. Sungguh, selain dingin yang menjalar di jemari tangan, keadaannya tidak seburuk yang engkau bayangkan.

Selamat Data di Lantai Tiga

Yup, "Welcome to the third floors, Andreas!" itulah yang disampaikan temanku, Presentacion. 

Yey! Level up, entah harus merasa seperti apa, tapi level up! Menarik sekali mengalami ulang tahun kedua kalinya di US, berarti sudah hampir dua tahun ada disini, bergulat dengan waktu dan cara pikir yang menarik setiap hari. Ada banyak kejutan dari Indonesia, ada beberapa orang yang menunggu sampai ganti hari di US (ada perbedaan 14 jam antara Indonesia dengan kota saya berada saat ini). Ada satu gambar dan satu foto yang membuat saya terharu.

Sebuah catatan mengenai Likert Scale

Dalam perpective Social Science, Likert Scale merupakan skala yang sering menimbulkan permasalahan, khususnya pada saat analisis. 

Apa itu skala Likert? 

Paling mudah adalah melihat contoh dulu, jadi coba perhatikan gambar dibawah: 

Gambar dari: https://www.behance.net/gallery/1466739/Gale-Cengage-Evaluation-of-an-Educational-Website

Gambar di atas adalah contoh pemanfaatan Likert Scale dalam sebuah kuisioner online berplatform Qualtrics. Ini bukan promosi, kebetulan sekarang juga sering bekerja dengan tools yang sama. Jadi saya paham. 

Apa yang engkau takuti dari kematian?

Beraaaat!

Yup yup! Nggak salah si, orang umur masih panjang, kok mikir mati. Tapi tak apalah, sekali-sekali mumpung lagi bisa mikir.

Stop!

Cerita pendeknya, pada percakapan makan siang, yang tentunya damai sejahtera dan penuh tawa, topik berubah menjadi percakapan tentang kematian.

Lanjut!!!

Jadi, tadi, seorang anak manusia berkata dengan tegasnya:

"Gw nggak takut mati, jujur saja! Yang gw takutkan adalah ketika gw mati, gw belum dapat jaminan dapat surga. Kalau gw sudah dapat jaminan itu, gw siap mati... bahkan sekarang!"

Gw merasa "wanjrit ni orang, PD gila!"

Gw si mikirnya, ini anak manusia nggak punya mimpi apa yah, apa dia nggak mau menikmati hidup dan jalan-jalan ke penjuru dunia?! Plus, gw tahu kalau manusia ini masih single, apa iya dia nggak mau nikah dulu?!

*geleng-geleng kepala*

-- si anak manusia *geleng-geleng kepala* ke gw

 

Menjadi bagian dari kelompok

Minggu ini merupakan satu minggu yang luar biasa. Mulai dari pekerjaan dan kehidupan sosial. Dan, alhamdulillah, Dia masih memberikan banyak petunjuk. Pelajaran penting minggu ini adalah menjadi team player.

Selama ini, biasanya ketika bergabung dengan suatu tim dikarenakan keinginan dan motivasi pribadi. Ya iyalah, kalau tidak, kenapa juga bergabung. Tapi sayangnya kehidupan tidak sesederhana itu. Ada kalanya, bahkan mungkin sering kali, justru kita bergabung dengan sebuah tim karena kewajiban. Dan disinilah masalahnya muncul.

Ketika berada dalam suatu tim, peran yang saya pilih adalah pendengar dan pendukung. Kalau memang ada tugas, maka tugas tersebut akan dikerjakan sampai selesai, insya Allah; kecuali memang kondisi tidak memungkinkan. Kalau tidak ada tugas, maka saya akan memilih posisi yang mungkin terlupakan karena anggota yang lain terlalu sibuk. Sampai sini tidak ada yang salah, kita melakukan apa yang kita lakukan. Tapi sayangnya tidak demikian.

Enaknya jadi mahasiswa lagi

Satu semester sudah berlalu dan minggu ini minggu merupakan minggu kedua setelah hari terakhir ujian. Nilai sudah keluar semua dan, alhamdulillah, memuaskan. Setelah sekian lama memberikan kuliah, menjadi murid kembali merupakan pengalaman yang unik. Pengalamanan mengajar itu membuat dosen dan tugas-tugasnya terlihat berbeda. Nanti akan diceritakan lebih lengkap, insya Allah.

Pages