Refleksi Tentang Tulisan

Kategori: 

Sudah lama tidak menulis sesuatu disini disebabkan oleh berbagai macam alasan. Tapi alasan yang paling utama adalah menjaga tangan agar tidak menulis seuatu yang akan menyakitkan orang lain dan yang akan memalukan diri sendiri ketika di baca kembali ketika sudah menjadi kakek-kakek. Tua.. tua... 

Pengalaman hidup melancong ke tanah yang jauh dari orang-orang "segenk", membuat saya dan keluarga belajar banyak tentang Islam. Salah satunya adalah, Rasulullah saw berkata, “Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” - diriwayatkan dalam Sahih Bukhari [1]. Disini, kami banyak melihat dengan kacamata yang berbeda, bagaimana orang-orang mengganggu orang lain dengan kata-katanya. Bahkan ketika memberi nasihat pun, prinsip ini tetap harus dipegang [2], oleh karena itu salah satu adab dalam menasihati adalah meluruskan niat, mencari cara terbaik dalam menyampaikannya, dan merahasiakan ketika memberikannya. 

Kesadaran ini membuat saya jadi khawatir, suatu saat saya akan merasa malu membaca tulisan yang saya buat. Entah karena kurangnya ilmu atau perubahan presepsi. Namun perubahan itu selalu terjadi dan yang perlu dilakukan adalah mengoreksi yang salah dan meminta ampun pada-Nya. Semoga saya dan keluarga, beserta teman-teman semua dijauhkan dari dosa yang diakibatkan oleh lisan. 

 

Baca juga:

[1] https://almanhaj.or.id/3197-menjaga-lisan-agar-selalu-berbicara-baik.html
[2] https://muslimah.or.id/4028-indahnya-saling-menasihati-diantara-kaum-muslimin.html

Ingatkah Engkau Akan Kebahagiaan Ubayy bin Ka’ab?

Cuplikan cerita ini disadur dari (Kaandhalawi, 1997):

Ubayy bin Ka’ab adalah salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang sangat ahli dalam ilmu Qur’an. Suatu malam, setelah selesai tahajud, Rasulullah s.a.w. berkata padanya, “Allah memerintahkan ku untuk membacakan Qur’an padamu”.

Ubayy bin Ka’ab pun bertanya pada Rasulullah s.a.w., “Oh Rasulullah, apakah Allah memanggil dengan namaku”.

Rasulullah s.a.w. menjawab, “Iya, Allah memanggil namamu”.

Ubayy bin Ka’ab pun menangis bahagia.

 

Cerita di atas menggambarkan dekatnya kedudukan Ubayy bin Ka’ab pada Allah. Sudahkah kita merasa sedekat itu dengan Nya? Sudahkah kita menyiapkan diri kita agar bisa sedekat itu dengan Nya? Sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk Ramadhan agar bisa lebih dekat dengan Nya?

 

Ramadhan di depan mata, jangan sampai tersia-sia. Semoga Allah memudahkan kita semua. 

 

Reference:

Kaandhalawi, M. M. Z. (1997). Faza’il-E-A'maal: Vol 1 (1st ed.). New Delhi, India: Abdul Naeem.

Cerita di Balik Belajar Memasak

Kategori: 

“Tumisanmu enak” kata suamiku saat mencicipi masakan ku pada awal kita menikah. Yup, saat itu memang aku belum padai mengolah makanan menjadi kudapan dengan berbagai variasi. Jangankan mengolah, bumbu saja mungkin hanya tergolong bumbu dasar yang kupakai, bawang merah, bawang putih, cabai, lada, garam, dan gula. Hampir semua bahan makanan yang kami beli, ku olah menjadi tumisan. Bisa dibilang itu adalah masakan andalanku. MSG atau penyedap makanan? Hmm benda itu tak pernah muncul pada daftar belanja kami atau kau temukan di apartemen kami.

 

Karena tinggal di daerah dimana muslim adalah minoritas, makanan bagi sebagian besar muslim disini menjadi hal yang tak luput dari perhatian. Di Logan, kami belum bisa menemukan toko yang menjual bahan makanan halal. Tapi jangan khawatir, kau bisa menemukan banyak toko halal di ibu kota Utah, Salt Lake City, sekitar 2,5 jam dari Logan. (Aku tak bisa membayangkan berapa lama waktu yang harus kami habiskan untuk menuju kesana kalau kondisi padatnya jalanan disini sama seperti di Jakarta, hehehe). Aku dan suami tidak mengkonsumsi daging yang tidak disembelih dengan cara Islam (Semoga Allah memudahkan kami untuk tetap teguh pada komitmen ini, amin). Bahkan untuk produk yang tidak dalam bentuk daging pun kami memperhatikan daftar kandungannya atau mengecek pada website Muslim Consumer Group (http://muslimconsumergroup.com/) untuk memastikan. Contohnya saat memilih susu, keju, makanan ringan dan coklat. Produk yang biasanya kami hindari adalah produk yang mengandung gelatin (karena sebagian besar terbuat dari bagian tubuh babi), daging, dan alkohol.

 

Kondisi seperti inilah yang menjadikanku harus memasak. Sebenarnya bukan semata-mata hanya karena alasan tersebut, tapi juga untuk alasan kesehatan dan hidup hemat. Sebulan pertama hidup di Logan nampaknya belum ada kemajuan yang signifikan dari kegiatan masak memasakku. Bahkan aku pernah berkata pada suamiku “Sepertinya masakanmu lebih enak”. Pengalaman tinggal sendiri 2 tahun lebih dulu disini menjadikannya terbiasa memasak. Kami diskusi mengenai betapa banyaknya kesempatanku untuk membuat banyak kemajuan dalam hal memasak. Aku punya banyak waktu, apartemen kami memiliki fasilitas internet, ada banyak bahan makanan, alat masakpun cukup memadai. Tak ada alasan untuk tidak belajar dan mencoba. Nampaknya kami juga sudah bosan makan tumisan.

 

Sejak saat itu, banyak sekali waktu yang kuhabiskan untuk membaca resep, menonton tutorial memasak dan mencobanya. Alhamdulillah, aku menunjukan progress yang bagus. Suamiku membelikan standing mixer dan steamer untuk menambah daftar alat masakku. Kini, tak ada alasan untuk tidak mencoba resep yang ku inginkan, kecuali bahan yang diperlukan tak kumiliki dan tak bisa diganti.

 

Tak hanya belajar dari internet, setiap ada undangan makan dari teman atau potluck (acara kumpul-kumpul dimana tiap orang akan membawa masakan mereka) juga menjadi kesempatanku untuk belajar resep baru. Memiliki banyak teman yang berasal dari negara yang beragam adalah keuntungan tersendiri untukku, selain dapat mengetahui budaya mereka, ini adalah kesempatanku untuk belajar masakannya juga. Setidaknya sampai saat ini aku sudah menghasilkan masakan Indonesia dan sedikit dari bermacam varian masakan Thailand, China, Korea, Jepang, India, Turki, Itali, dan Amerika. Setiap berhasil memasak dan mengadirkan menu baru di meja makan mungil kami, ada kepuasaan tersendiri saat orang yang kita cintai bisa  makan dengan lahap dan memuji makanannya enak. Alhamdulillah. Sekarang juga lebih banyak mempergunakan bumbu masakan. Tak disangka sekarang bisa pakai sereh, daun jeruk, daun salam, jinten, ketumbar, kemiri, kunyit, jahe, lengkuas, kayu manis, biji pala, asam jawa, cengkeh, dan kapulaga.

 

Sempat ada kejadian yang mengejutkan, suatu hari persediaan terigu kami habis. Tempat favorit kami untuk belanja bulanan adalah Sam’s Club, karakter toko ini adalah menjual sesuatu dalam partai besar atau pack. Saat mencari terigu akhirnya suamiku memutuskan untuk membeli terigu dalam ukuran sangat besar. Ukuran terigu yang bisa kami beli sudah tergolong besar, tapi ini lebih besar. Dalam hatiku berkata “Besar sekalilah ini, udah kaya karung semen”.  Sempat khawatir, tapi setidaknya insya Allah suami percaya aku akan memakainya habis. Karena ia tak suka membeli sesuatu yang ia percaya akan terbuang, tak berguna, atau berlebihan. Sekarang aku bisa membuat mi ayam dan roti sendiri dalam rangka mempergunakan terigu tersebut.

 

Bagi yang sekarang belum memulai untuk memasak, hayuk segera dimulai dari masakan sederhana yang kau bisa olah. Banyak latihan akan menjadikanmu semakin peka terhadap rasa. Kalau masih tinggal dengan ibu yang jago masak, jangan disia-siakan ambil banyak ilmu dari dapur ibumu. Semoga kita semangat ya belajarnya! :D

Welcome Winter

Kategori: 

Welcome winter!

Finally, I can see beautiful scenery of winter. This is my first time of living in a place which has four seasons. Today is the fourth month I lived in Logan, Utah. The place where you can easily find a lot of beautiful views just by opening your door or window. I remembered the first time I saw the view around my apartment.

Last August, my husband and I arrived in Logan at 9 pm, when the sky was already dark in the end of summer. Because of a long journey from Jakarta to Logan, I felt tired yet blessed. I wasn’t aware of the views around me. I just wanted to eat then sleep. Next day, I wanted to throw garbage from my apartment to the city garbage bin in my area. In that time, I couldn’t believe what I saw; I just could only said “Subhana Allah” (which means ‘all praise is due to Allah’). If you have lived in a big city you entire life, you might understand how I felt. I saw beautiful mountains in front of my eyes and realized that I lived close to the cemetery. Fortunately, for me, at least, the cemetery is also beautiful. I didn’t feel scared, horror, or something like that. Hopefully, it will remain the same until my husband graduated from here.

Time flies so fast, now is the beginning of winter. The season that I never imagined I can feel before. Yes, I was really excited when I knew the snow was coming. My husband invited me to go outside in the first day of snow; walking around our apartment area and taking a lot of pictures. Everything outside had already covered by snow, the roof, the grass, the cars in the parking lot, and also the mountains. It was really fun. I spent my day with my friends, Reyla and Ryan. They taught me how to make a snowman. After that, we enjoyed hot chocolate in a small coffee shop in the center of Logan.

What a beautiful day!

Objektif, Tantangan, dan Batasan

Hari itu merupakan awal minggu yang dingin. Salju bercucuran dari langit kota Logan, UT, bagaikan kelopak melati transparan yang berguguran di taman gantung. Kondisi kantor tidak jauh berbeda, karena pemanas sentral sedang diperbaiki, ruangan terasa dingin walau tidak sampai -8 Celsius. Di ruangan itu hanya ada dua orang, saya dan seorang mahasiswa lainnya. Keduanya tenggelam dalam pekerjaan mereka, menganalisis data riset sementara rekan-rekan lain sedang menikmati liburan musim dingin mereka. Sungguh, selain dingin yang menjalar di jemari tangan, keadaannya tidak seburuk yang engkau bayangkan.

Analisis hari itu tidaklah selancar yang saya bayangkan. Data dari e-Journal (elektronik jurnal) mengenai desain tidak masuk akal. Walau salah seorang seniorku sering berkata, “Data kualitatif itu selalu tidak masuk akal”, bukan berarti saya puas dengan ketidakjelasan ini. Fokus analisisku kali ini adalah objektif dan batasan, bagaimana membedakan mereka berdua, itu tantangannya. Diskusi pun membuat diri semakin meragu, kontemplasi, pikirku, mungkin di sanalah terletak jawabannya. Kontemplasi pun dimulai dengan membuka referensi utama (lihat Dym & Little (2008)halaman 6).

Objecive (objektif) is "something toward which effor is directed; an aim or end of action"

Constraint (batasan) is "the state of being checked, restricted, or compelled to avoid or perform some action"

Sayangnya, walaupun berdasarkan fungsinya definisi itu dapat membantu kita dalam memahami sesuatu, kali ini dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Huff… Hari masih panjang dan kesempatan masih terbuka, mungkin dengan contoh kasus, kedua definisi ini akan menjadi lebih mengkristal.

Bersamaan dengan tegaknya punggungku, pikiran pun terbawa pada masa-masa SMA. Layaknya ABG  masa itu, ingin rasanya masuk Universitas Indonesia (UI). Mimpi? Mungkin saja karena passing grade UI itu tinggi, khususnya untuk fakultas-fakultas favorit seperti teknik, ilmu komputer, dan psikologi. Entah apa yang ada di pikiranku waktu dulu, lulus saja belum pasti malah memikirkan kuliah.

Dengan tertawa tak percaya, saya kembali ke masa kini. Objektif masa mudaku sangat jelas, ‘ingin masuk UI’. Tantangannya pun jelas: lulus SMA dan melewati passing grade fakultas yang saya inginkan. Benarkah ini tantangan, bukan batasan? Rasanya, benar karena keduanya membantuku mengidentifikasi enam buah sub-objektif, yaitu:

  1. Belajar untuk persiapan ujian akhir SMA minimal 3 jam setiap harinya.
  2. Mendapatkan nilai yang bagus pada ujian akhir SMA.
  3. Memilih bidang ilmu yang ingin ditekuni pada masa kuliah.
  4. Belajar soal-soal ujian UMPTN untuk persiapan ujian masuk UI.
  5. Ikut bimbingan belajar untuk membantu dalam persiapan ujian masuk UI.
  6. Mendapatkan nilai yang bagus pada UMPTN.

Kalau saya pikir lebih jauh, ada tiga karakteristik dari objektif-objektif ini: 1) muncul dari dalam diri sendiri (e.g., saya ingin [sesuatu]), 2) membantu memfokuskan perhatian dan energi, dan 3) memiliki akhir yang jelas. Ini semua persis seperti yang tertulis dalam definisi. Pertanyaannya yang masih tertinggal adalah “apa itu batasan”?

Ragu rasanya ingin berpikir seperti ini, tapi mungkin ini benar: jika objektif berasal dari dalam diri, mungkinkah batasan adalah sesuatu yang berasal dari luar? Sesuatu yang sudah menjadi persyaratan dan tidak bisa kita ubah atau lawan dengan mudah. Kalau memang begitu, berarti ada empat batasan dalam lamunanku, yaitu: 

  1. Calon mahasiswa harus sudah lulus SMA.
  2. Siswa SMA harus mendapatkan nilai minimal 6 untuk setiap mata pelajaran utama agar dapat dinyatakan lulus.
  3. Calon mahasiswa harus memilih tiga bidang studi yang ingin diambil sebelum mengikuti UMPTN.
  4. Calon mahasiswa harus berada dalam X peringkat teratas agar dapat diterima dalam bidang studi yang diinginkan.

Hmm… sepertinya kedua hal ini sudah jelas, aku bisa lanjut dengan riset ini dan tidur lebih nikmat nanti malam.

Sungguh tak disangka, kontemplasi ini berhasil mengubah dimensi permasalahan riset menjadi permasalahan kehidupan. Kemampuan mengidentifikasi objektif, tantangan, dan batasan merupakan kemampuan penting dalam kehidupan keseharian kita, khususnya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang kompleks (contoh: mencari pekerjaan, istri, dan sekolah anak). Bayangkan saja kalau ada yang mengubah objektifnya tentang kriteria calon istri (e.g., seorang perempuan yang kecantikan dan kekayaannya seperti Cleopatra) menjadi batasan, bisa-bisa tidak akan menikah dia nanti.

 

Referensi:

Dym, C. L., & Little, P. (2008). Engineering Design: A Project Based Introduction. Wiley. Retrieved from https://books.google.com/books?id=7FdKPgAACAAJ

 

Selamat Data di Lantai Tiga

Yup, "Welcome to the third floors, Andreas!" itulah yang disampaikan temanku, Presentacion. 

Yey! Level up, entah harus merasa seperti apa, tapi level up! Menarik sekali mengalami ulang tahun kedua kalinya di US, berarti sudah hampir dua tahun ada disini, bergulat dengan waktu dan cara pikir yang menarik setiap hari. Ada banyak kejutan dari Indonesia, ada beberapa orang yang menunggu sampai ganti hari di US (ada perbedaan 14 jam antara Indonesia dengan kota saya berada saat ini). Ada satu gambar dan satu foto yang membuat saya terharu.

Salah satunya yang terlihat pada bagian atas tulisan ini, gambar yang dibuat oleh keponakanku tersayang. Jujur saja, dia sangat bagus dalam melakukan risetnya. Di gambar itu, walau badannya kurus, pipinya tetap agak chubby, dan itu sangat valid. Kemudian, baju longgar, terlihat dari berbagai kerutan dan jarang ruang di bagian lengan, dan itulah yang sering aku gunakan. Kerah terlihat longgar dan bagian paling atas tidak dikancing, lagi-lagi benar. Telinga, terlihat sangat kontras kecilnya dibandingkan muka. Mengaggumkan. Gambar itu membuat saya tertawa bahagia. Terima kasih Um. 

Satu lagi, foto, dikirim oleh salah seseorang yang sangat penting bagiku saat ini. Alhamdulillah, itu pun membuatku terharu. Terima kasih banyak! 

Kenapa tidak di share? Karena belum saatnya untuk dibuat publik. Nanti akan ada waktunya. 

 

Terlepas dari hadiah yang menyenangkan hati, sempat terpikir, hadiah apa yang sebaiknya aku berikan pada diri sendiri. Ya, saya membeli long board si, sebagai sarana transportasi, menggantikan skateboard. Tapi itu juga untuk alasan keamanan. Longboard membuatku jarang jatuh, baguslah. Tapi mudah-mudahan bisa naik sepeda sebentar lagi. Walau membuatku bahagia, tetap terpikir, hal apa lagi yang bisa diberikan pada diri sendiri. Entah kenapa, kemudian teringat surat Al-Qaasas ayat 16, yang artinya:

He said, "My Lord, indeed I have wronged myself, so forgive me," and He forgave him. Indeed, He is the Forgiving, the Merciful.

Dan sepertinya, itulah hadiah paling baik untuk diri kita sendiri melatih diri untuk menjauhi dosa atau kebiasaan buruk kita. Tidak usah hal yang besar-besar, cukup yang sederhana, contoh: membiasakan diri untuk baca Al-Quran setelah shalat, walau hanya satu ayat. Bisa juga, membiasakan diri untuk menghentikan pemikiran buruk terhadap orang lain. Sepertinya, hadiah semacam itu untuk diri kita sendiri akan lebih bermakna dan memberikan efek jangka panjang yang bagus. Menebarkan energi positif. 

Semoga Dia memudahkan. 

 

 

-- 

Terima kasih kepada keponakanku yang baik hati, Umroh, atas gambarnya (berserta berbagai ciri yang tampak) yang sangat berkesan.

Sebuah catatan mengenai Likert Scale

Kategori: 

Dalam perpective Social Science, Likert Scale merupakan skala yang sering menimbulkan permasalahan, khususnya pada saat analisis. 

Apa itu skala Likert? 

Paling mudah adalah melihat contoh dulu, jadi coba perhatikan gambar dibawah: 

Gambar dari: https://www.behance.net/gallery/1466739/Gale-Cengage-Evaluation-of-an-Educational-Website

Gambar di atas adalah contoh pemanfaatan Likert Scale dalam sebuah kuisioner online berplatform Qualtrics. Ini bukan promosi, kebetulan sekarang juga sering bekerja dengan tools yang sama. Jadi saya paham. 

Likert-type or frequency scales use fixed choice response formats and are designed to measure attitudes or opinions

Untuk lebih jelas tentang Likert Scale, silahkan kunjungi http://www.simplypsychology.org/likert-scale.html. Pada tulisan ini saya hanya ingin mengangkat isu yang ada pada skala satu ini. 

Isu #1 - Tipe data: ordinal, interval, atau ratio? 

Likert Scale merupakan sebuah data dengan tipe ordinal, bukan interval atau ratio. Banyak penggunanya sadar akan hal ini tapi masih menggunakan teknik analisis yang hanya bisa digunakan dalam interval atau ratio. Teknik analisis yang saya maksud disini adalah berbagai operasi aritmatika: penjumlahan, perkalian, pengurangan, pembagian, dan lain sebagainya. Operasi-operasi ini bisa digunakan pada tipe data interval atau ratio, tapi tidak untuk ordinal.

Mudahnya:

Jika ada dua data dengan Likert Scale bernilai "Disagree" dan "Neutral", apakah hasil dari ("Disagree" + "Neutral)/2? Lebih cenderung ke "Disagree"? 

Adanya pernyataan "lebih cenderung" sudah merupakan sebuah interpretasi. Karena pada dasarnya nilai di antara "Disagree" dan "Neutral" tidak pernah ada. 

Coba kunjungi http://www.mymarketresearchmethods.com/types-of-data-nominal-ordinal-interval-ratio/

Isu #2 - Semantic Differential Scale

Hal menarik lain yang saya temukan, ketika Anda mengubah bentuk Likert Scale menjadi: 

Gambar dari: http://psychology.wichita.edu/surl/usabilitynews/112/typeface.asp

Maka skala Anda sudah berubah tipe. Sekarang tipe skala Anda bernama Semantic Differential Scale. Walau berbeda jenis, tipe data yang Anda peroleh masih bertipe ordinal, bukan interval ataupun ratio. 

Kunci Penting dari Interval

Misalkan ada sebuah Likert Scale dengan pilihan: "Setuju", "Agak Setuju", "Biasa Saja", "Agak Tidak Setuju", dan "Tidak Setuju". 

Apakah Anda bisa menjamin bahwa jarak antara "Setuju" dan "Agak Setuju" sama seperti jarak antara "Tidak Setuju" dan "Agak Tidak Setuju". Apakah jarak yang sama juga berlaku untuk seluruh pilihan yang berdekatan? 

Jika Anda bisa menjamin, pertanyaan berikutnya adalah apakah seluruh responden Anda selalu melihat ada jarak yang jelas seperti yang Anda lihat. 

Yang saya maksud dengan jarak itu seperti beda antara satu cm dengan dua cm. Siapapun orangnya pasti akan melihat jarak yang sama. Hal ini tidak berlaku pada Likert Scale. Ketika pernyataan "Agak Setuju"-nya dari A dan B mungkin saja berbeda intensitasnya. 

Apa yang engkau takuti dari kematian?

Beraaaat!

Yup yup! Nggak salah si, orang umur masih panjang, kok mikir mati. Tapi tak apalah, sekali-sekali mumpung lagi bisa mikir.

Stop!

Cerita pendeknya, pada percakapan makan siang, yang tentunya damai sejahtera dan penuh tawa, topik berubah menjadi percakapan tentang kematian.

Lanjut!!!

Jadi, tadi, seorang anak manusia berkata dengan tegasnya:

"Gw nggak takut mati, jujur saja! Yang gw takutkan adalah ketika gw mati, gw belum dapat jaminan dapat surga. Kalau gw sudah dapat jaminan itu, gw siap mati... bahkan sekarang!"

Gw merasa "wanjrit ni orang, PD gila!"

Gw si mikirnya, ini anak manusia nggak punya mimpi apa yah, apa dia nggak mau menikmati hidup dan jalan-jalan ke penjuru dunia?! Plus, gw tahu kalau manusia ini masih single, apa iya dia nggak mau nikah dulu?!

*geleng-geleng kepala*

-- si anak manusia *geleng-geleng kepala* ke gw

 

Walau gw nggak habis pikir, tapi si anak manusia ini patut dikagumi. Membuat gw berpikir, apa selama ini isi otak gw sudah tepat. Gw punya banyak mimpi, jujur aja. Dan berhubung gw merupakan seorang pemimpi, sulit untuk melepaskan mimpi-mimpi itu. Sulit juga untuk membiarkan mimpi-mimpi itu terpapar tanpa kelanjutan.

Walau gw bisa paham, ketika gw mati nanti, ada sesuatu yang namanya siksa kubur. Dan jujur saja, gw nggak mau tahu seperti apa, meningat kata pertamanya adalah "siksa". Setelah siksa kubur, ada siksa berikutnya berikutnya, yaitu ketika kita di padang mashyar. Ketika kita berjalan dan menunggu di hisab. Kemudian ada siksa di neraka. Kalau yang ini, semua sudah tahulah, siksa dibakar dengan api membara.

Walau gw sangat tidak ingin merasakan salah satu siksa tersebut. Tapi, sangat jelas terlihat, kegagalan kita di dunia bisa menyebabkan tiga siksa yang berbeda. Dan kurun waktunya lebih panjang dari total umur hidup kita.

Jelas! Ini bikin gw mikir. Tapi susah sekali rasanya membuat itu menempel di hati.

 

Gw tahu gw masih takut untuk mati! Tapi kenapa? Layakah ketakutan gw itu?

 

- catatan anak manusia yang bingung setelah bertemu dengan anak manusia yang lain -

Menjadi bagian dari kelompok

Kategori: 

Minggu ini merupakan satu minggu yang luar biasa. Mulai dari pekerjaan dan kehidupan sosial. Dan, alhamdulillah, Dia masih memberikan banyak petunjuk. Pelajaran penting minggu ini adalah menjadi team player.

Selama ini, biasanya ketika bergabung dengan suatu tim dikarenakan keinginan dan motivasi pribadi. Ya iyalah, kalau tidak, kenapa juga bergabung. Tapi sayangnya kehidupan tidak sesederhana itu. Ada kalanya, bahkan mungkin sering kali, justru kita bergabung dengan sebuah tim karena kewajiban. Dan disinilah masalahnya muncul.

Ketika berada dalam suatu tim, peran yang saya pilih adalah pendengar dan pendukung. Kalau memang ada tugas, maka tugas tersebut akan dikerjakan sampai selesai, insya Allah; kecuali memang kondisi tidak memungkinkan. Kalau tidak ada tugas, maka saya akan memilih posisi yang mungkin terlupakan karena anggota yang lain terlalu sibuk. Sampai sini tidak ada yang salah, kita melakukan apa yang kita lakukan. Tapi sayangnya tidak demikian.

Ada hal penting lain yang harus ada, yaitu "hati". Dan itulah masalah yang saya hadapi dan terluput, berhubung biasanya memang bergabung karena ada "hati" dalam tim yang saya pilih. Dan lucunya, walau istilah "hati" ini muncul di film dan komentar dari supervisor, keduanya kurang mengena sampai hari ini. Ada teman yang memberikan komentar setelah kita bermain voli. Dan jujur saja, saya tidak bisa main (upss). Namun, karena terus berada dalam kondisi tersebut, lama-kelamaan gerak juga badan ini (berasa tua :-( ). Di akhir permainan teman saya berkata, "Bagus! Engkau akhirnya bermain dengan menggunakan hatimu!"

Dan disitulah kesadaran ini muncul. Dulu ketika mengerjakan sesuatu, banyak hal tak terduga yang bisa dilakukan. Dan itu karena ada motivasi internal yang menjadi motor, itulah "hati". Dan minggu ini, mudah-mudahan, "hati" ini terbuka dan bisa masuk ke banyak hal lain. Ini penting, karena selama disini, waktu yang ada tidak boleh terbuang percuma.

Pages